Selasa, 04 Desember 2012

SIKAP DAN TANTANGAN DAKWAH PERSPEKTIF KAJIAN TAFSIR ALI IMRON: 186

SIKAP DAN TANTANGAN  DAKWAH
(Kajian Tafsir Ali Imron Ayat 186)

 I.        Latar Belakang
Dalam menjalani bahtera hidup yang penuh dengan lika-liku pasti banyak perjuangan yang dilakukan untuk mendapatkan kepuasan pribadi. Banyak orang yang menilai kebahagiaan itu diukur dalam bentuk materi dan pemenuhan kebutuhan. Dan kalau kita renungkan lagi hakikat hidup didunia ini, betapalah lamanya kita merasakan enaknya. Menanyakan bila terasa enak hidup didunia, sama saja dengan menanyakan kepada seseorang, bila dia merasakan nyenyak tidur. Alangkah kosongnya hidup ini, kalau yang diingat hanya duniawi saja. Padahal setiap makhluk akan mengalami kematian. Harta itu seolah-olah tidak berarti ketika ajal menjemput. Karena semua amal perbuatan akan dipertangguangjawabkan di hari akhir nanti. kematianTermasuk Dakwah Nabi Muhammad SAW. Allah SWT mengingatkan Rasul-Nya bahwa ia akan diuji terhadap harta dan dirinya. Untuk menghadapi itu hendaklah ia tetap memelihara kesabaran dan ketakwaan. Begitu juga diperintahkan kepada seluruh umat Nabi Muhammad sampai akhir zaman. Terutama para dai yang mengemban tugas dakwah.

Bagi para pengemban tugas Dakwah terutama para Dai dan seluruh umat Islam dalam rangka menegakkan kebaikan dan kebenara di jalan Allah pasti akan mengalami banyak rintangan. Entah itu dari harta benda, jiwa, cercaan dan hinaan dari orang lain maupun perlawanan dari manapun itu pasti akan terjadi. Terkadang orang yang tidak kuat imannya akan goyah imannya. Bisa saja frustasi, menyerah, putus asa,  atau bahkan mengakhiri hidupnya. Karena memandang berbagai cobaan dan ujian hidup yang datang silih berganti tersebut sebagai musibah yang menyengsarakan dirinya. Itulah sunnatullah dalam aqidah dan  semua bidang dakwah. Tidak ada yang bisa bersabar menghadapi kesulitan yang ada kecuali orang-orang yang memiliki tekad kuat dengan penuh ketakwaan pada Allah.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, dalam menyampaikan wahyu dan risalahnya Rasulullah selalu mengalami banyak pertentangan dan perlawanan. Perjuangan melawan kaum kafir dan kaum musyrikin tak terhitung banyak sekali metode dan atrategi yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mengemban tugas Dakwahnya. Semua itu tertuang dan diceritakan di Al-Quran dan al-Hadits yang dijadikan oleh generasi penerus sebagai pedoman hidupnya.

Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai Sikap dan Tantangan Dakwah terhadap Sasaran Dakwah. Dimana tema tersebut dalam pengkajiannya dikhususkan pada pilihan Sura Ali Imron Ayat 186.

B.       Surat Ali Imron Ayat I86
 3:186


C.      Terjemah Ayat
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan.
D.       Hubungan Dengan ayat sebelumnya
                Ayat sebelum ayat 186 yakni ayat 185. Ayat ini juga berhubungan dengan ayat 186. Karena bersifat memberikan hiburan kepada Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi berbagai tantangan  dari orang-orang kafir.  Dalam perjuangan dakwahnya. Selain itu ayat ini juga sebagai pengingat Umat Muslim tentang hakekad hidup yang sebenarnya. Bahwa hidup itu hanyalah sementara. 
كُلّ ُنَفْسٍ ذَآئِقَةُالْمَوْت.  ِوَإِنَّمَاتُوَفَّوْنَأُجُورَكُم ْيَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزَِحَ عَنِالنَّارِ وَما الْحَيَاة ُالدُّنْيَا إِلاَّمَتَاعُ الْغُرُورِ وَأُدْخِل الْجَنَّةَ فَقَد ْفَازَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Menurut ahli-ahli tafsir, terutama ditegaskan oleh ibnu Jarir di dalam tafsirnya, bahwasanya ayat ini, yang menyatakan bahwa tiap-tiap nyawa pasti merasakan mati, adalah lanjutan dari tasliyah; obat penawar hati Nabi dalam kesibukan perjuangan yang kadang-kadang menghadapi pasang naik dan kadang-kadang pasang surut. Dan itupun menjadi obat penawar bagi sekalian yang menegakkan iman.
Kerapkali tampak, bahwa orang yang memusuhi kebenaran itu masih saja hidup dengan kemewahan dan keangkuhannya; tidak juga jatuh-jatuh. Sedang orang yang berjuang menegakkan kebenaran selalu saja tertumpuk jalan. Maka datanglah ayat ini sebagai penawar hati. Bahwasanya bagaimanapun tampak kemegahan musuh, namun ujung perjalanan hidupnya ialah mati.
Lanjutan ayat telah memberikan ketegasan, bahwasanya ganjaran akan dibayar bukanlah disini. Pada hari kiamatlah kelak segala janji itu akan dipenuhi. Yang jahat akan dapat balasan Naraka dan yang baik akan dapat balasan surga.
Kemudian ingatlah, bahwasanya hidup dunia ini tidak lain dari benda tipuan. Hidup di dunia ialah makan, minum, rumah dan kediaman, pangkat, kebesaran, singgasana atau mahligai, ataupun hanya dapat sesuap pagi sesuap petang. Karena ditipu oleh hal-hal yang demikian, timbullah rasa tidak puas dengan yang telah ada. Padahal karena tipuan itu kerap kali lupalah kita akan tujuan hidup yang sebenarnya. Bahwa kehidupan dunia ini mesti berakhir dengan maut. 


II. PEMBAHASAN
A.      Asbabun Nuzul Ayat
Dalam suatu Riwayat dikemukakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Abu Bakar dengan Fanhas, tentang ucapannya: “Allah faqir dan kami kaya”. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnul Mundzir dengan sanad hasan yang bersumber dri Ibnu ‘Abbas.
Dalam riwayat lain  dikemukakan bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan Ka’b bin al-Asyraf yang mencaci-maki Nabi SAW, dan sahabat-shahabatnya dengan syi’ir. Diriwayatkan oleh ‘Abdurazzaq dari Ma’mar dari az-Zuhri yang bersumber dari Abdurrahma bin Ka’b bin Malik.
Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Mu’amar dari Az-Zuhri, dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ka’ab bin Asyraf yang selalu menghina Rasulullah dan para Sahabat beliau melalui lantunan-lantunan syair.                                                                                                                                                                                                        

B.       Penjelasan Dari berbagai Tafsir:
1.     Tafsir Al Azhar
Datang  peringatan Tuhan kepada orang yanbg beriman:  Sesungguhnya kamu akan dikenakan percobaan pada harta bendamu dan dirimu. (pangkal ayat 186). Maka didalam menuju ridha Allah, agar terjauh dari neraka dan sentosa hendaknya dalam surga. Mumin tidak menempuh jalan yang mudah. Hadits shahih berkata:
حقت الجنة باالمكاره وحفت النار بالشهوات
Syurga ditempuh dengan serba kesulitan dan neraka ditempuh dengan serba syahwat.
Menegakkan kalimat ilaihi, menempuh jalan Allah akan membawa berbagai percobaan. Harta benda akan diminta pengurbanan supaya dikeluarkan. Bakhil adalah batu-penarung menuju cita. Perhatikan dengan seksama. Pada ayat 180 diterangkan bahaya bakhil. Yaitu harta yang telah dibakhilkan itu akan disandangkan di leher kelak dan dijadikan tontonan pada hari kiamat. Kemudian diayat 185 diterangkan, bahwa tiap-tiap nyawa pasti akan merasakan mati. Dan dikatakan, nahwa dunia ini hanya tipuan. Sekarang datanglah ayat 186, bahwasanya pastilah kamu akan diberi cobaa, kemanakah hatimu condong, kepada dunia penipu itu, namun hartamu akan pisah juga dari dirimu dan mati pasti datang. Di ayat ini Tuhan menyatakan pasti, latublawunna sungguh-sungguh kamu akan diberi percobaan. Sesudah perang Badar yang menggembirakan telah datang Uhud yang mengecewakan. Kemudian akan mengikuti lagi yang lain, sampai harta itu meninggalkan kamu atau kamu meninggalkan harta dan sampai nyawa itu bercerai dari badan.
    Bukan percobaan harta benda dan nyawa saja:Serta akan kamu dengar celaan yang banyak sekali dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, yaitu orang Yahudi dan Nasrani. Dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah yaitu kaum musyrikin diseluruh tanah Arab yang berpusat di Makkah pada waktu itu.
Artinya, perjuangan ini tidak akan pernah berhenti, sebab dia adalah pertempuran antara yang hak dengan yang bathil. Disamping pengorbanan dengan harta dan nyawa, sebelum cita-cita tercapai, namun telinga akan selalu diganggu oleh ejekan, penghinaan, gangguan, dan celaan.
 Malah salah satu antara gangguan itu ialah menyalahartikan maksud Al-Quran, sampai mengatakan Tuhan Allah fakir dan mereka kaya. Dan banyak lagi yang lain. Semua ini percobaan. Lemahkah kamu? tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang paling penting. (ujung ayat 186).
2.     Tafsir Ibnu Katsir

Dan firman-Nya:  لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ  “Kamu akan sungguh-sungguh diuji tentang hartamua dan dirimu, “ seperti firman-Nya
       وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
”Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqoroh :155) Dengan pengertian, merupakan suatu keharusan bagi seorang Mukmin akan diuji  menurut kadar pemahaman agamanya, jika ia kuat dalam agamanya, maka akan diberikan ujian yang lebih berat.
Firman-Nya

..dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.” 
Allah swt berfirman ditujukan kepada kalangan orang beriman ketika tiba diMadinah, yaitu sebelum terjadinya perang Badar, sebagai hiburan buat mereka atas gangguan dan siksaan dari Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik. Selain itu Allah juga memerinyahkan kepada mereka bersabar dan memberikan maaf sehingga Allah menghilangkan kedukacitaan mereka. 
   jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan
Dalam penafsiran ayat tersebut, Imam al-Bukhari menyebutkan dari az-Zuhri, Urwah bin az-Zubair memberitahukan kepadaku, Usamah bin Zaid menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah menaiki seekor keledai yang diatasnya terdapat pelana terbuat dari beludru, sedang Usamah bin Zaid di bonceng di belakang beliau dengan tujuan menjenguk Saat bin Ubadah yang berada di Bani al-Harits bin al-Kharaj, yaitu sebelum peristiwa badar, sehingga beliau melewati suatu majlis yang didalamnya terdapat Abdullah bin Ubay bin Salul. Dan itu terjadi sebelum Abdullah bin Ubay bin Salul masuk Islam. Ternyata dalam majlis tersebut bercampur antara kaum Muslimin, orang-orang musyrik penyembah berhala, Ahlulkitab dan Yahudi. Dan dalam majlis tersebut terdapat Abdullah bin Rawahah. Ketika majlis itu dipenuhi oleh debu yang diterbangkan oleh hewan (keledai Rasulullah SAW), maka Abdullah bin Ubay menutipi hidungnya dengan selendangnya seraya berkata:Jangan menyebarkan debu pada kami.
    Kemudian Rasulullah mengucapkan salam, lalu berhenti dan turun dari keledainya. Setelah itu beliau menyeru mereka kepada menyembah Allah serta membacakan al-Quran kepada mereka, kemudian Abdullah bin Ubay seraya berkata: Wahai saudara, tidak ada sesuatu yang baik. Dari apa yang kau katakan itu. Jka apa yang kau katakan itu memanga benar, maka janganlah engkau mengganggu kami dengan kata-kata itu di majlis kami. Lanjutkan saja perjalananmmu itu dan ceritakan saja kepada orang yang datang kepadamu.
Kemudian Abdullah bin Rawahah berkata: Kami menerimanya, ya Rasulullah, perdengarkanlah kepada kami hal itu dalam majlis-majlis kami, karena kami menyukai perkataanmu tersebut. Maka antara kaum Muslimin, orang-orang munafik dan orang-orang Yahuid saling menghardik hingga hampir saja terjadi bentrok fisik. Sedang Nabi SAW masih terus berusaha melerai mereka, sehingga merekapun terdiam. Kemudian beliau menaiki kendaraanya dan melanjutkan perjalanan hingga masuk kerumah Saad bin Ubadah. Nabi SAW pun berkata kepadanya :Wahai Saad, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Hubab, yang dimaksudkannya adalah Abdullah bin Ubay. Kemudian beliau mengutarakan ini dan itu hingga Saad pun berkata: Ya Rasulullah, maafkan dan biarkan saja mereka. Demi Rabb yang menurunkan kepadamu al-Quran, Allah telah datang  kepadamu dengan membawa kebenaran yang diturunkan kepadamu. Penduduk perkampungan ini telah sepakat untuk mengangkatnya sebagai pemimpin. Namun tatkala Allah enggan terhadap hal itu karena kebenaran yang Allah berikan kepadamu itu menjadi penyebab dari perilakunya tersebut, begitulah ia berbuat sebagaimana yang engkau lihat, lalu rasul Saw pun memaafkannya.
    Adapun Rasulullah dan para Sahabatnya memaafkan orang-orang musyrik dan Ahlul Kitab, sebagimana yang diperintahkan Allah kepada mereka, dan diperintahkan juga untuk bersabar atas gangguan mereka.
Allah juga berfirman:

Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya*. (QS. Al Baqoroh :109)..
* Maksudnya: keizinan memerangi dan mengusir orang Yahudi.



3.  Tafsir Al-Marogi
Sesudah Allah SWT, menghibur nabi-Nya dengan hal-hal yang telah lalu, kemudian menambahkan hiburan dengan ayat lain yang menjelaskan padanya bahwa apa yang ia derita dari kaum kuffar dalam perang Uhud, maka nanti ia pun akan memperoleh banyak kemenangan atas mereka sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dalam hal menggilas strategi perang musuh.
Tujuan ayat ini ialah memberitahukan bahwa hendaknya kaum muslimin memperkuat diri sikap sabar dan tidak mengeluh. Sehingga manakala musibah menimpanya tidak terlalu berat dirasakan.
Pengertian cobaan dalam harta benda ialah dengan mengorbankan (menginfakkan) ke jalan kebajikan, yang bisa mengangkat umat islam dan menolak musuh-musuhnya, serta hal-hal yang membahayakan, selain untuk menolak wabah penyakit menular dari mereka.
Cobaan dalam jiwa ialah dengan berjihad fi sabilillah, disamping karena matinya keluarga atau sahabat terdekat. Atau mengorbankan jiwa untuk membela kebenaran. Manfaat cobaan ini ialah unmembedakan yang buruk dengan yang baik. Faedah mengenai pemberitahuan mengenai hal itu ialah agar kita mengenal sunnatullah, kemudian kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Sebab seseorang yang tertimpa musibah secara mendadak akan merasa sangat berat, sehingga ia akan sangat bersedih, yang tidak jarang akan mengakibatkan kematiannya.
Demikian halnya dengan orang yang mendapatkan karunia secara mendadak, yang belum pernah diduga sebelumnya, kemungkinan besar akan sangat mengejutkan dan menggoncangkan jiwanya. Terkadanjg mengakibatkan lumpuhnya syaraf dan akalnya, yang tidak mustahil akan sangat menggoncangkan jiwanya atau membawa kematian secara mendadak. Peristiwa-pewristiwa itu banyak sekali terjadi.
Ini adalah suatu cobaan dalam bentuk lain, yakni menyangkut jiwa. Hal itu disebutkan secara khusus mengingat kedudukannya sangat penting dalam menggoyahkan jiwa seseorang. Artinya sesungguhnya kaliyan akan mendengarkan banyak hal yang menyakitkan, yang keluar dari mulut orang-orang Yahudi dan Nasrani termasuk orang-orang musyrik. Diantaranya ialah peristiwa Al-Ijik (Ummum Mu'minin dituduh berbuat serong). Juga bersatunya mereka orang-orang Yahudi untuk menghadapi kaum muslimin, mereka yang merusak perjanjian dengan klaum muslimin, dan upaya mereka membunuh Nabi Muhammad SAW. Tetapi Nabi SAW mampu menghalau mereka keluar dari Madinah, sehingga kaum muslimin terhindar dari kejahatannya.\
Sebelum itu kaum Yahudi telah sepakat dengan golongan kaum musyrikin, kemudian mereka menyerang Madinah guna mengusir kaum muslimin. Memang upaya mereka itu sempat membuat kaum muslimin menderita lantaran terkurung, terjepit gerakannya. Hal itu sebagimana diungkapkan firman Allah:
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab:10-11)
Apabila dalam menghadapi segala musibah kalian tetap bersyabar, baik musibah dalam hal harta benda, atau dalam hal tuduhan-tuduhan para ahlul kitab, dan orang-orang musyrik, sesungguhnya hal itu lebih utama.
   az-Zuhri meriwayatkan bahwa Ka'b bin Asyraf, seorang Yahudi militan adalah seorang penyair. Ia pernah mengejek Nabi SAW. Dan pernah menggerakkan orang kafir Quraisy untuk mengganyang beliau melalui syair-syairnya. Pada waktu itu, Nabi saw baru datang di Madinah, sedangkan masyarakat Madinah waktu itu terdiri dari kaum muslimin, musyrikin dan Yahudi. Kemudian Nabi saw bermaksud mendamaikan mereka, meskipun sebelumnya kaum musyrikin dan Kaum Yahudi selalu menyakiti beliau dan para sahabatnya dengan cara sangat keras. Namun Allah memerintahkan nabi-Nya tetap bersikap sabar dalam menghadapinya. Kemudian turunnya ayat ini sehubungan dengan mereka.

4. Tafsir Al Misbah

Setelah dalam ayat yang lalu Allah menghibur Rasul-Nya, kini Allah mengingatkan kaum mukmin semuanya dengan suatu peringatan yang juga mengandung hiburan bahwa: Demi Allah, sungguh kamu semua, wahai orang-orang Islam, kapan dan dimanapun akan diperlakukan sebagai orang yang diuji menyangkut harta kamu, baik berupa kekurangan harta, kehilangan, atau dalam bentuk kewajiban berzakat dan bersedekah, dan kamu juga akan diuji dengan diri kamu, yakni dengan luka dan pedih akibat peperangan atau penganiayaan musuh, atau penyakit.
Bukan hanya harta dan diri, ada yang lebih dasyat dari keduanya, yaitu kamu juga sungguh akan diuji dengan mendengar sesudah apa yang kamu telah dengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu yakni Yahudi dan Nasrani dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, kaum musyrik Mekkah, gangguan yang banyak dengan ucapan-ucapan mereka yang melecehkan agama. Jika kamu bersabar, yakni menahan diri menghadapi ujian-ujian itu dan bertakwa yakni beramal sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya dalam menangani dan menghadapi aneka cobaan itu, maka sesungguhnya yang demikian itu, yakni kesabaran dan takwa yang mencapai kedudukan yang sangat tinggi-sebagaimana diisyaratkan oleh kata itu-termasuk urusan yang patut ditekadkan untuk dilaksanakan, tidak ditunda, dan tidak pula disangsikan.
          Perlu digaris bawahi dari redaksi ayat diatas bahwa Allah menjadikan ujian dalam hal yang berkaitan dengan agama sebagai ujian yang paling berat. Harta dan jiwa pada tempatnya dikorbankan jika agama telah tersentuh kahormatannya.
          Diatas dikemukakan bahwa ayat ini mengandung hiburan. Hal ini dapat diuraikan dari dua segi. Pertama, karena ayat ini menetapkan bahwa ujian merupakan keniscayaan untuk semua orang, sehingga siapa yang dihadapkan pada ujian, hendaknya menyadari bahwa ia bukan orang pertama  dan terakhir mengalaminya. Ujian dan bencana  yang dialami banyak orang akan menjadi lebih ringan dipikul dibandingkan ujian itu menimpa satu orang. Kedua, penyampaian tentang keniscayaan ujian merupakan persiapan mental menghadapinya, sehingga kedatangannya yang telah terduga itu menjadikannya lebih ringan untuk dipikul.


5.     Tafsir At-Tabari
Maksud ayat ini adalah kalian akan diuji dengan musibah yang menimpa harta dan dirimu berupa kematian keranat dan keluarga yang mendukungmu dan seagama denganmu. Maksud ayat {dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu}, yaitu dari segolongan Yahudi yang mengatakan, {sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya}. (QS. Ali Imron,3:181), juga mereka berkata: {Tangan Allah Terbelenggu} [QS.Al Maidah,5: 64]. Dan perkataan – perkataan lain yang merupakan fitnah mereka  terhadap Allah.
Maksud ayat {Dan dari orang-orang yang Musyrik}, yaitu Nasrani. {banyak hal yang sangat menyakitkan hati}, yaitu gangguan datang dari perkataan-perkataan orang Yahudi, sedangkan orang-orang Nashrani berkata, Isa Al-Masih adalah anak Allah Dan perkatan-perkataan lain yang merupakan bukti kekafiran mereka terhadap Allah.
 Maksud ayat {Jika kamu bersyabar dan bertakwa}, yaitu jika kalian bersyabar atas perkara Allah yang diperintahkan kepada kalian. {Dan bertakwa}, yaitu bertakwa kepada Allah atas apa yang diperintahkan dan dilarang kepada kaliyan, dan kaliyan melakukannya dengan penuh ketaantan. {Maka sesungguhnya yang demikian itu   termasuk urusan yang (patut) diutamakan }. Maksudnya, bahwa sabar dan takwa adalah perkara yang patut duitamakan.  (Tafsir At-Tabari Jilid VI, 2001: 290-293)

                  












[1] Ahmad Mustafa Al Maragi. 1993.Terjemah Tafsir Al Maragi. Semarang: CV. Toha Putra Semarang 
[2] HAMKA. 2003. Tafsir Al-Azhar. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura 
[3] Qamaruddin Shaleh, dkk. 1988. Asbabun Nuzul. Bandung: CV. Diponegoro   
[4]  Kementerian Agama RI. 2010.  Syaamil Al-Qur’an Miracle The reference. Bandung: Sygma Publishing 
[5] HAMKA. 2003. Tafsir Al-Azhar. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura
[6] Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. 2007.  Tafsir Lbnu Katsir (Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir). Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i 
[7] Ahmad Mustafa Al Maragi. 1993.Terjemah Tafsir Al Maragi. Semarang: CV. Toha Putra Semarang
[8] M. Quraish Shihab. 2000. Tafsir Al-Misbah. Ciputat: Lentera hati
[9]  Kementerian Agama RI. 2010.  Syaamil Al-Qur’an Miracle The reference. Bandung: Sygma Publishing


Tidak ada komentar:

Posting Komentar