Selasa, 04 Desember 2012

Pengaruh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) terhadap Tingkat Intelektual Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang


 Mahasiswa merupakan suatu peralihan dari siswa menjadi Mahasiswa yang sudah duduk di bangku perguruan tinggi. Mahasiswa didefinisikan sebagai segmen pemuda yang tercerahkan karena memiliki kemampuan intelektual dan logis dalam berfikir. Sebagai bagian dari pemuda, mahasiswa juga memiliki karakter positif lainnya, antara lain idealis dan energik. Idealis berarti (seharusnya) mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban sejarah atau beban posisi. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik, tanpa adanya resistansi yang terlalu besar. Sedang energik berarti pemuda biasanya siap sedia melakukan “kewajiban” yang dibebankan oleh suatu ideologi manakala dia telah meyakini akan kebenaran ideologi itu.
Dengan potensi seperti diatas, mahasiswa sangat diperlukan dalam peranannya di masyarakat. Sebagaimana dalam mencapai tujuan pendidikan seperti halnya setiap mahasiswa IAIN Walisongo dibebani dengan Tri Etika Kampus sebagai arah dan pedoman moral moral bagi pengembangan IAIN Walisongo yang berisi Etika Diniyah, Etika Ilmiah, dan Ukhuwah. Diantaranya Etika Diniyah merupakan peningkatanpemahaman, penghayatan dan pengamalan agama Islam. Etika Ilmiah mengembangkan dan menjungjung tinggi kebebasan akademik secara bertanggungjawab yang bermanfaat bagi lembaga dan masyarakat luas. Etika Ukhuwah, berupa peningkatan semangat persaudaraan antar warga IAIN Walisongo dan masyarakat.
Melihat realita yang terjadi di lapangan banyak corak sistem yang harus dibenahi dari tataran kehidupan disekitar kita. Disini mahasiswa IAIN mempunyai peran serta sebagai pengemban dakwah Islam. Dakwah Islam tersebut bisa dilakukan melalui tiga hal. Yakni dakwah bil Hal, dakwah billisan, dan dakwah bil kitabah atau dakwah bi al-Qalam. Dimana diera globalisasi ini yang banyak diperlukan adalah dakwah bil kitabah, yang merupakan dakwah lewat media tulisan. Melalui tulisan inilah hasil pemikiran dari para cendekiawan dapat tersalurkan kekreativitasannya dalam menguraikan kata demi kata dari ideologi dan kemampuan intelektualnya.
Dalam Islam perintah menulis ini terdapat dalam firman Allah SWT, dalam Qs Al-Qalam (68): 01;
“Nun (dawat), perhatikan qalam dan apa saja yang mereka tulis dengannya.”
Dari ayat tersebut jelaslah bahwa manusia itu diperintahkan untuk menulis dan memperhatikan apa yang mereka tulis dengand awat. Dawat yang merupakan induk dari segenap alat tulis dan qalam (kata-kata atau tulisan).
Apalagi sebuah tulisan itu akan abadi terbukti banyak penulis yang sudah wafat, tapi keyakinannya dalam tulisan dan karyanya tersebutmasih dianut oleh jutaan orang bahkan milyaran orang didunia. Sebut saja Imam Syafi’i, Al Ghazali, WS. Rendra, Jamaluddin Rachmad, dsb.
Bagi kaum akademisi terutama mahasiswa inilah yang akan mengisi ruang-ruang tulisan tersebut. Pada hakikatnya menulis kemudian bisa dinyatakan sebagia kegiatan produktif dengan niatan menggelombangkan pikiran lewat uraian kata. Apalagi di IAIN Walisongo ini para penulis merupakan sosok yang sangat sangat dihargai. Terbukti terdapat sejumlah penghargaan berupa dana prestasi dan piagam penghargaan bagi mahasiswa yang tulisannya termuat dalam media massa berupa surat kabar. Yang tentunya menyertakan nama almamater IAIN Walisongo dalam tulisan tersebut. Itu merupakan salah satu upaya dari lembaga IAIN Walisongo untuk memotivasi mahasiswa untuk menulis di media massa.
Proses dalam membuat tulisan, apalagi akan dipublikasikan di media massa. Agar tulisan dimuat, cara yang mungkin dilakukan adalah menempa diri sebagai pembaca. Menulis tidak akan memiliki kekuatan spiritual kalau tidak dimulai dengan tradisi membaca. Dengan membaca inilah banyak kajian keilmuan yang diperoleh sehingga tulisan akan semakin berbobot dan kuat pengaruhnya.
Ada beberapa ayat al-Qur’an yang secara eksplisit memerintahkan umatnya untuk belajar menulis. Salah satunya adalah lima ayat permulaan Qs. Al-Alaq (96): 1-5 yang secara tegas menunjukkan hal ini,
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhamnulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajarkan Manusia lewat perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat-ayat ini merupakan wahyu yang pertama kali diturunkandan dengan begitu bisa ditegaskan betapa pentingnya kemampuan membaca dan menulis, sehingga diucapkan pada kali pertama sebagai permulaan masuknya agama Islam yang membawa peradaban khasanah keilmuan pada waktu itu.
Dari uraian tersebut terlihat betapa pentingnya menulis dalam kehidupan. Mahasiswa yang mempunyai tanggungjawab terhadap pengabdiannya kepada masyaraka dituntut untuk memiliki pemikiran Intelektual yang tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat. Lewat media tulisan tersebut dapat menyalurkan suara-suara pergerakan mahasiswa ke publik. Akan tetapi menulis terutama di media massa itu tidak sembarang orangbisa melakukannya. Karena diperlukan penguasaan wacana yang lebih dari yang lainnya.
Disinilah peran dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) maupun Pers Kampus dalam mewadahi pergerakan mahasiswa dalam tulis menulis. LPM  di IAIN Walisongo terbagi menjadi dua yakni LPM yang ada di Fakultas yakni LPM MISSI (Fakultas Dakwah), LPM JUSTISIA (Fakultas Syari’ah), LPM IDEA (Fakultas Usuluddin), LPM EDUKASI (Fakultas Tarbiah) dan satu LPM yang ada di Instutut yaitu LPM yang masuk kedalam UKM AMANAT. Dalam LPM tersebut tersedia berbagai macam kegiatan yang membimbing mahasiswa ke arah tulis-menulis dalam rangka mengembangkan wacana dan Intelektualitas mahasiswa.

2 komentar:

  1. Bagus tulisannya.
    Sudah selayaknyalah mahasiswa berperan aktif dalam dunia tulis menulis sebagai agen perubahan, Baik dilingkungan kampus ataupun masyarakat.
    salam kenal dari pers mahasiswa DINAMIKA IAIN Sumatera Utara

    BalasHapus
  2. Makasih ya, komentnya? jadi lebih bersemangat nulis lagi nich!

    BalasHapus