Minggu, 10 Februari 2013

Analisa Profesi Wartawan



Kebanyakan orang tidak akan memilih wartawan sebagai profesinya. Rata-rata wartawan yang saya temui menganggap bekerja sebagai seorang jusnalist adalah pilihan terakhirnya. Tidak mengherankan banyak wartawan yang bukan dari sarjana Komunikas. Pekerjaan ini memberikan banyak keuntungan yang berlimpah-limpah, tetapi disertai dengan resiko yang sepadan. Disatu sisi bisa dicintai banyak orang, namun disisi lain juga banyak pihak yang tidak suka wartawan.
Wartawan atau reporter adalah seseorang yang bertugas mencari, mengumpulkan dan mengolah informasi menjadi berita, untuk disiarkan melalui media massa.[1] Wartawan atau jurnalist adalah seseorang yang melakukan jurnalisme, yaitu orang yang secara teratur menuliskan berita (berupa laporan) dan tulisannya dikirimkan/ dimuat di media massa secara teratur. Laporan ini dapat dipublikasikan dalam media massa, seperti koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi dan internet. Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalamlaporannya; dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut tertentu untuk melayani masyarakat.[2]
Pandangan objektif dalam pengertian diatas mengandung arti bahwa berita yang ditulis tidak berdasarkan sudut pandang dari wartawan. Seorang wartawan hanya melaporkan kejadian atau informasi dalam sebuah tulisan pendek. Dengan disertai nara narasumber dari berita tersebut.
Seorang Jurnalist di tuntut untuk bekerja secara professional.Pada umumnya wartawan sebagai seorang Jurnalist harus mempunyai beberapa karakter. Antara lain mereka harus mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap apa yang mereka lakukan. Dorongan untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi, kemudian mengungkapkannya dengan kata-kata yang jelas, merupakan dorongan hati kecil yang tidak pernah bakal lenyap dari seorang jurnalist.
Ada kalanya para wartawan harus serba tahu meskipun sedikit-sedikit tentang segala macam hal. Wartawan dituntut serba bisa, bisa bergaul dengan orang – orang elit maupun dengan para gelandangan di pinggir jalan. Selain itu seorang jurnalist juga dituntut untuk berkarakter sabar. Dalam pekerjaannya dia harus banyak berhadapan dengan segala macam ketergesa-gesaan, serba cepat ataupun tugas yang menunggu panjang dan hampir menggigit seluruh kesabarannya.
Contohnya ketika seorang wartawan meliput dipemerintahan maka nara sumbernya para pejabat. Biasanya pun dalam mencari nara sumber, yang dicari jabatan yang paling tinggi dalam suatu peristiwa yang terjadi. Sehingga beritanya terkesan kuat. Karena nara sumbernya petinggi-petingginya. Dalam berita yang hanya terdiri dari satu nara Sumber masih dikatakan beritanya lemah dan terkesan hanya searah. Suatu berita tidak hanya terdiri dari satu nara sumber, akan tetapi dua atau tiga nara sumber. Untuk liputan yang nara sumbernya khalayak umum sampai kaum yang berstrata sosial rendah, ketika liputan dilapangan.
Sabar menunggu bagi seorang wartawan biasanya terjadi tatkala menunggu nara sumber. Misalnya dalam situasi rapat, harus menunggu sampai selesainya rapat. Barulah dapat memperoleh informasi hasil dari rapat tersebut. Selain itu ketrampilan berkomunikasi sangat penting dimiliki oleh seorang wartawan. Tidak semua narasumber mau diwawancarai. Maka diperlukan teknik khusus dalam berkomunikasi seperti melobi dan berbicara yang sopan agar narasumber mau menjawab pertanyaan dari wartawan. Selanjutnya keterampilan membangun jaringan. Inilah yang sangat penting, mengingat kemampuan manusia yang kadang terbatas. dengan jaringan yang banyak, wartawan bisa memperoleh banyak informasi yang diperlukan.
              Selama menjalani pekerjaannya, terdapat beberapa pengalaman yang tidak “mengenakkan”. Ketika berita yang telah dibuatnya menimbulkan tuntutan dari pihak-pihak yang terkait dan meminta berita tersebut dihapus. Belum lagi kendala-kendala ketika mengangkat sebuah kasus. Seperti narasumbernya susah dicari, disisi lain ada narasumber yang minta identitasnya disamarkan atau dirahasiakan.
              Namun beberapa keterampilan yang dimiliki wartawan itupun belum cukup. Modal utama menjadi seorang wartawan itu harus punya pengalaman kejurnalistikan. Keterampilan menulis itulah yang penting. Karena sebanyak apapun memperoleh informasi, ketika tidak pandai menuliskannya, maka beritapun tidak akan dimuat. Apalagi di Harian Seputar Indonesia. Penyeleksian tulisan yang keluar dikoran termasuk susah. Karena Edisi Jawa Tengah DIY hanya disediakan 4 lembar untuk berita.
              Padahal wartawan tersebar di beberapa daerah, kota dan provinsi. Seperti Kota Semarang, Solo dan Yogyakarta, mempunyai banyak wartawan karena di setiap kota tersebut terdapat kantor Sindo. Belum lagi wartawan daerah-daerah. Akan tetapi berita yang ditampilkan hanya pada empat lembar tersebut. Lembar pertama pada halaman 9 untuk headline, lembar kedua halaman 10 untuk wilayah Semarang, lembar ketiga untuk wilayah Solo & DIY dan lembar ketiga berisi sambungan halaman pertama. Padahal setiap wartawan setiap harinya diwajibkan mengirim berita minimal tiga, tapi yang keluar tidak pasti. Terkadang dua berita keluar, hanya satu berita yang keluar atau sama sekali tidak ada berita tulisannya yang keluar.
Secara sederhana, Wartawan harus mempunyai beberapa keterampilan untuk mendukung kerjanya. Kemampuan mencari, menulis dan melaporkan berita merupakan keterampilan teknis seorang wartawan. Selain itu keterampilan moral juga diperlukan dalam mencari, menulis dan menyajikan berita dengan menjunjung tinggi nilai independensi, idealisme dan etika baik pada proses kerja Jurnalistik maupun hasilnya. Sebagaimana yang tertuang dalam Kode Etik Jurnalistik dan Hukum Etika Media Massa.
Mengingat karakteristik dari setiap orang berbeda beda. Wartawan pun dalam menjalankan profesinya juga berbeda-beda.  Ada yang taat hukum dan etika, ada pula yang tidak taat dalam hukum dan etika. Apalagi dengan adanya kebebasan pers dan perlindungan hukum terhadap profesi wartawan membuat wartawan terkadang berbuat sesuka hatinya dalam menuliskan berita. Ada pula wartawan yang rendah moral profesinya yang sering dikenal sebagai “wartawan bodrek”.
Wartawan jenis ini yang datang bergerombolan dalam pasukan “bodrek”, lebih banyak menunggu “angpao” atau amplop dari humas yang menyelenggarakan acara. Bahkan tidak diundangpun  datang hanya sekedar mencari amplop. Atau mencari-cari informasi negatif, untuk kemudian menghadapkannya pada petugas humas, maupun pihak terkait. Jika berhasil mendapatkan “amplop”, maka informasi negatif tidak dipublikasikan.[3]
Meskipun ada beberapa wartawan yang menerima amplop, tidak sedikit wartawan yang jujur. Menyampaikan informasi apa adanya dengan memperhatikan kode etik Jurnalistik. Karena PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) juga akan memberikan sanksi kepada wartawan yang melanggar kode etik Jurnalistik.
Sebagaimana di Harian Seputar Indonesia, wartawan diharuskan memenuhi standar etika peliputan. Selain Kode Etik Jurnalistik juga etika mewawancarai dan memotret nara sumber. Sebelum wawancara memperkenalkan diri sebagai seorang wartawan dan dibuktikan dengan ID-Cart atau seragam pers. Begitu pula dalam mengambil gambar, terlebih dahulu meminta ijin pihak yang berkaitan untuk diprotret. Kecuali liputan investigasi yang menggunakan kamera tersembunyi. Karena setiap orang juga mempunyai hak atas privasinya begitu pula seorang jurnalist. Karena itu semua juga untuk melindungi profesi kewartawanan yang penuh etika dan bermartabat.





[1] Totok Djuroto. 2004. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
[2] http://wartawan/co/id//
[3] Ashadi Siregar. 2006. Etika Komunikasi. Yogyakarta: Pustaka, hl